Tuesday, October 30, 2012

[KDrama] Vampire Prosecutor 2 Episode 7



Kasus episode kali ini keren menurutku, membawa isu yang lumayan sensitif tapi tidak berlebihan. Dan aku jadi semakin ngefan dengan jaksa vampir kita. He's a total hero. 

thanks to: dramabeans

Vampire Prosecutor 2 Episode 7




Seorang wanita muda keluar dari kamar mandi untuk menemui sang pacar: Si Mata Merah. Ia berbisik senang bahwa oppanya hebat. Sekarang ia merasa aman dari gangguan stalker. Si Mata Merah bertanya apa buruknya seorang stalker. Dan jika ia menyukai stalker itu, apa bedanya?



Wanita itu kaget. Si Mata merah berkata semuanya selalu berakhir dengan wajah seperti itu, "senyumlah, kau lebih cantik kalau tersenyum", kemudian ia menyerang leher wanita itu.

Credits.



Tae Yeon sampai di tkp. Wanita korban si Mata Merah. Dengan darah yang habis di tubuhnya, Tae Yeon tahu Si Mata Merahlah yang bertanggung jawab. Ia meminta detektif yang menangani untuk menyerahkan kasus ini padanya, kalau tak mau mati. Kendati maksud Tae Yeon adalah detektif itu akan jadi korban Si Mata Merah, kata-katanya seakan detektif itu akan mati ditangan Tae Yeon jika kasus itu tak diserahkan padanya.



Segera setelah ia keluar tkp, ia merasakan Si Mata Merah mengamatinya. Saat ia menoleh, tak ada siapa-siapa.




Seorang wanita lain terlihat pulang ke rumahnya, ia terlihat gugup dan gemetaran saat mengecek kamera pengintai yang ia pasang sendiri. Ia segera mengenali penguntit yang terekam didalamnya. Tak lama, video itu memperlihatkan kedatangan dirinya sendiri beberapa saat lalu. *merinding* Wanita itu menoleh dan berteriak.




Dipotong ke adegan Tae Yeon dan Soon Bum berdiri memandangi mayat wanita itu. Soon Bum memberitahu identitas korban sebelum disergah Tae Yeon yang berkata bahwa ia tahu siapa korban kali ini. Ia adalah seorang aktris terkenal. Soon Bum cukup terkesan karena Tae Yeon ternyata update juga tentang pop kultur.



Tae Yeon menerawang lewat darah korban, dimana ia melihat satu petunjuk penting: pembunuhnya menusuk korban dengan tangan kiri. Ia menyadari kamera pengawas, tapi kata Soon Bum rekamannya sudah dihapus.

Tae Yeon menebak korban memasang kamera pengawas karena ia telah dikuntit, kemudian beranjak pergi. Soon Bum berkata, "apa kau tak melakukan itu?" Tae Yeon, "apa?" ia pura-pura tak mengerti. "Kau tahu, menelan darah dan matamu membuka lebar."



Tae Yeon tetap pura-pura bodoh, "Disini? Kenapa?" Soon Bum mengaku kalau ia suka saat Tae Yeon minum darah dan kemudian kesakitan. Tae Yeon menatap Soon Bum, "kamu mesum ya?" hahahah.



Ia kembali ke korban dan mengambil sedikit darah darinya, Soon Bum melihat dengan seksama, lalu Tae yeon berbalik, "Tak merasakan apa-apa." Soon Bum bertanya apa yang ia lihat, tapi terpotong oleh panggilan dari ponsel Tae Yeon, "oppa, ini aku." Hah? Adiknya kah?



Kembali ke kantor, Soon Bum dan Dong Man berebut tempat agar dapat melihat aktris Park Hae-Ri, yang saat ini sedang duduk bersama Tae yeon di ruangannya. Jung In melihat Tae Yeon tersenyum pada aktris itu dan bertanya-tanya apa hubungan mereka berdua.




Ternyata Hae Ri dan Tae Yeon adalah penghuni panti asuhan yang sama dulu. Ia bertanya tentang adik Tae yeon dan bernostalgia bagaimana dulu Tae Yeon selalu melindungi dirinya dari pengganggu. Jadi dulu pun Tae Yeon sudah menjadi seorang pahlawan. Aw.

Segera Tae Yeon berubah serius, menanyakan tujuan Hae Ri bertemu dengannya setelah sepuluh tahun. Ia berkata kalau aktris yang baru saja meninggal, Joo Hee, adalah temannya, mereka berasal dari agensi yang sama. Dan dia berpikir kalau ia tahu siapa pembunuhnya.



Mereka berdua telah dikuntit oleh orang yang sama beberapa bulan belakangan, dan pembunuhnya adalah "salah satu dari mereka". Flashback memperlihatkan Hae Ri dikuntit oleh pria bertopi, mendapat telepon dari orang tak dikenal, mendapat peringatan dari wanita pemilik kaki lima, dan seorang supir taksi yang bilang sayang sekali ia tak mati di kecelakaan mobil.



Soon Bum yang mendengar penjelasannya kemudian berkata kalau mereka tak bisa begitu saja mencari orang-orang ini tanpa bukti. Tae Yeon memberinya pandangan penuh kasih, "Hae Ri adalah masa laluku. Dia salah satu orang dihidupku yang kukenal sebelum aku menjadi seorang vampir. Aku ingin mempercayainya."



Soon Bum berkata kalau yang ia percaya adalah Tae Yeon, dan bertanya kenapa ia tak memberitahu apa yang ia lihat saat mencicip darah korban. Tae Yeon berjanji akan memberitahunya, tapi belum saatnya, memohon Soon Bum untuk mempercayainya saja. Soon Bum tak suka dengan rahasia-rahasiaan Tae Yeon kali ini, tapi memutuskan untuk percaya saja dan menurutinya. Bromance is forever heart-melting.

Tae Yeon nampak sedikit bingung harus mulai dari mana, mungkin kasus yang melibatkan orang yang masih hidup cukup baru baginya. Soon Bum menyarankan seorang yang ahli, dan keluarlah Agen J, detektif pribadi yang ahli dalam kasus penguntitan.



Pandangan pertama pada Agen J bikin aku ngakak, dia mirip salesman yang berhasrat jadi Men In Black. Kendati tampak konyol, dia cukup tahu apa yang ia bicarakan, ia menjelaskan metode lama yang sekarang dipakai untuk menjaring sekelompok orang yang bertugas meneror target kemanapun dan dimanapun, hingga sang target ketakutan.



Kemudian diperlihatkan situasi Hae Ri mirip dengan apa yang Agen J bicarakan, sampai Hae Ri menghentikan langkahnya, "aku rasa ini sudah cukup." Pria itu membalikkan badan, Tae Yeon sudah berdiri di belakangnya siap menangkap.



Tim jaksa juga berhasil menangkap penguntit lain dan digeret ke kantor untuk diintrogasi. Namun introgasi itu tak menghasilkan apa-apa, karena mereka semua berdalih hanya melakukan tugasnya (pria bertopi jalan-jalan, wanita pemilik warung hanya berusaha ramah pada pelanggan, dll), berkata bahwa bertemu dengan Hae Ri semata karena kebetulan.



Tae Yeon bertanya pada Hae Ri apa alasan ia dan teman aktrisnya itu sedang dikuntit seseorang, agak ragu aktris itu menjawab tak tahu. Tae Yeon bertanya lagi apa ada yang disembunyikan darinya. Hae Ri memeluk Tae Yeon, bilang bahwa tak ada yang ia sembunyikan, ia tak bisa menyembunyikan sesuatu padanya. Namun raut mukanya tak bisa bohong.



Jung In mengamati mereka berdua dari luar. Soon Bum memberinya info bahwa pelaku menusuk korban dengan tangan kiri. Jung In menghampiri Hae Ri dan meminta tanda tangan.



Mereka semua melihat Hae Ri mengambil pena dan membubuhkan tanda tangan menggunakan tangan kirinya. Tae Yeon melihat kejadian itu, dan baru terungkap bahwa penglihatan yang ia dapat saat mencicip darah korban adalah Hae Ri.

Otopsi jenazah tak memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan. Namun Dr. Jo menemukan aroma parfum Jasmine yang bukan milik korban, dan pisau yang digunakan sebagai senjata adalah pisau militer.

Jung In berkesimpulan bisa saja pembunuh adalah seorang wanita, sementara Tae Yeon beranggapan bahwa pembunuhnya pria. Argumen Jung In pada Tae Yeon berlanjut di kantor, apa yang jaksa itu lakukan, sementara banyak bukti mengarah ke Hae Ri sebagai pelaku.



Tae Yeon defensif, "kamu ingin Hae Ri sebagai pelakunya?" Jung In membalas, "kamu ingin Hae Ri sebagai bukan pelakunya?", Jung In marah dan beranjak keluar, "jangan terbawa emosi masa lalu. Manusia berubah, aku, kamu, dan Hae Ri juga." (maaf, aslinya Jung In tetap memakai bahasa formal ya, aku cuma cari gampang aja hehe).



Jung In bertemu Dong Man di area parkir saat pria itu membawakan berkas kasus milik Tae Yeon. Kemudian Jung In mendapat panggilan telepon.




Suara di seberang bertanya apa Hae Ri datang ke jaksa dan memainkan peran sebagai korban. Suara itu mengaku bahwa dirinya adalah salah satu korban dari kebohongan Hae Ri di masa lalu. Jung In menawarkan untuk ketemu langsung, namun suara itu malah menuntut untuk menutup teleponnya. Jadi ia tetap menyalakan telepon sementara sibuk memberi Dong Man kode untuk melacak panggilan itu.

Suara di telepon itu menyebutkan dua nama aktris lain yang sudah mati, dan korban. Ketiga aktris itu punya kesamaan, yakni peran yang seharusnya dimiliki mereka yang mati kini jatuh ke tangan Park Hae Ri.

Sementara Dong Man berhasil melacak panggilan itu... dan penelepon ternyata tepat di depan mereka. Mereka segera mengejar mobil pria itu, namun tak berhasil. Mobil tadi sudah menghilang.



Hae Ri sampai di apartemennya. Tanpa menyadari dua orang juga masuk ke dalam lift bersamanya. Sampai keduanya juga naik ke lantai yang sama. Ia mempercepat langkahnya, kedua orangitu pun sama, Ia berhenti, pun kedua orang itu. Ia akhirnya berlari namun tersandung, kedua orang itu juga lari sangat cepat menuju ke arahnya... kemudian lewat begitu saja.



Mereka menghilang. Tetapi saat Hae Ri berhasil mencapai pintu apartemennya, dua orang menakutkan itu meuncul lagi di ujung lorong. Ia panik dan gagal memasukkan kode pin pintu apartemennya, kedua orang itu semakin dekat dan dekat.

Ia berhasil masuk ke dalam. Fiuh. Namun dua orang itu menggedor pintu dan menarik handle pintu. Hae Ri menjerit.



Hae Ri masuk ke dalam rumahnya, namun tempat tinggalnya sudah dirusak, seekor anjing ditemukan mati. TIDAKKKK, kenapa harus ada binatang yang jadi korban :(((

Adegan keduian berpindah ke: Jung In yang bertanya apa yang sedang terjadi, karena ceritanya tak sama dengan yang mereka lihat. Apartemennya bersih dan rapi dan tak ada tanda-tanda seekor anjing yang mati atau bahkan pernah ada. Whuttt?



Tae Yeon berkata tak pernah ada polisi yang datang. Soon Bum mengecek kamar mandi dan menemuka parfu.. beraroma Jasmine. Dong Man berteriak memanggil-manggil dari dapur. Semuanya datang pada Dong Man, saat ia menemukan pisau yang digunakan sebagai senjata pembunuhan. Tanpa menunggu aba-aba, Jung In segera memborgol Hae Ri.



Jung In mengintrogasi aktris itu dengan sengit, tak begitu saja percaya dengan tangisan sang aktris. Jelas sekali prasangkanya sekuat Tae yeon walau bertolak belakang. Namun begitulah Jung In memperlakukan semua tersangka. Hanya saja ia terlihat jahat karena kita tahu kalau ia cemburu.

Akhirnya Tae Yeon masuk ruang introgasi untuk mengambil alih, Jung In menolak. Tae Yeon memohon pada Jung In, dan bergabung dengan Soon Bum di luar. Jaksa bertanya apa benar Hae Ri yang membunuh, aktris itu berbalik tanya apa pendapat Tae Yeon. Tae Yeon ingin mempercayainya.

Masih menangis, ia bilang tak tahu jika harus sampai seperti ini. Ia memminta Tae Yeon sehari dan kemudian akan menjelaskan semuanya. Tae Yeon setuju. Wajah Soon Bum dan Jung In: "jagsdjdkjhdsjk????"



Tae Yeon meminta Hae Ri dilepaskan dan akan bertanggung jawab atasnya. Appah? Jung In menggerutu.

Soon Bum mendapat panggilan dari Agent J, yang melapor bahwa kasus ini bukan sekedar operasi kacangan. Ia menyelidiki dan menemukan bahwa ada sekelompok orang, mungkin 30 orang atau lebih terorganisir untuk menguntit dan meneror Hae Ri. Agen J bilang bahwa mereka sampai tahap menculik dan membunuh. Dan salah satu penguntitnya muncul dengan seutas kabel.








Tim jaksa sibuk mencari keberadaan Hae Ri, sampai Tae Yeon mendapat telepon dari aktris itu. Tae Yeon berinisiatif untuk memakai mobil Dong Man saja, karena mungkin mobil yang lain sudah dicurigai. Dong Man langsung gugup.

Mereka cengo' saat Dong Man menunjukkan mobilnya yang tak terlalu keren. Mereka beranggapan selama ini Dong Man selalu membangga-banggakan mobilnya. Hahaha.



Mereka sampai di sebuah rumah, Hae Ri muncul dari dalamnya, dan segera memeluk Tae Yeon. Jung In melihat (agak) sinis. Soon Bum kesusahan melepaskan sabuk pengaman dari mobil Dong Man. Dong Man bilang bukan karena sabuknya yang sudah aus, mungkin saja karena perut Soon Bum yang kegendutan.

Mereka berlima berkumpul di dalam rumah dan menyalakan lilin. Hae Ri mulai bercerita semuanya. Ternyata ia menggunakan stun gun untuk melumpuhkan pria yang akan mencekiknya dengan kabel.

Dia bercerita bahwa temannya Joo He terbunuuh karena aktris itu menyimpan sebuah daftar. Mereka segera memahaminya— daftar para sponsor, dimana agensi mengirim mereka untuk menghibur pria kaya dan berpengaruh untuk kejayaan di dunia showbiz.



Joo Hee mengaku pada Hae Ri kalau ia menunjukkan daftar itu pada presiden agensi, dengan polosnya beranggapan dengan begitu mungkin saja ia tak disuruh lagi "bertemu" dengan orang-orang itu. Kemudian penguntitan itu dimulai. Setelah berbulan-bulan, mereka setuju untuk memberikan daftar itu pada jurnalis. Peduli setan dengan ketenaran. Mereka ingin keadilan.



Namun Joo Hee terbunuh. Malam itu Hae Ri lah yang ditelepon korban dan segera ke apartemennya, tetapi Joo Hee sudah mati. Cocok dengan penglihatan Tae Yeon. Soon Bum bertanya kenapa baru sekarang ia menceritakan semua ini alih-alih menjadi tersangka pembunuhan, "Karena aku juga ada disitu, malam itu."

Ia mengeluarkan tape recorder dan menekan tombol play, bukti bahwa dia juga dijual oleh agensinya. Jung In segera mematikan tape recorder itu dan menggenggam tangan Hae Ri :'(



Tae Yeon membagi tugas pada tim. Dong Man menyiapkan konferensi pers, Jung In mengejar penjahat-penjahat itu, dan Soon Bum menjadi umpan.

Para penjahat siap menjebak di jalan, ia menghancurkan mobil Dong Man, namun yang mereka temukan adalah Soon Bum mearah-marah mobilnya dirusak, dan mengancam untuk menelepon perusahaan asuransi.



Bos Jo mendapat telepon tentang kegiatan Tae Yeon, ia menuju ke kantor jaksa. Kosong.

Tae Yeon bersama Hae Ri naik bus menuju ke suatu tempat, beberapa pria berhasil menemukan mereka. Tetapi Tae Yeon segera bisa mengatasinya. Pria-pria babak belur itu dibuang di tengah jalan.

Mereka berhasil sampai di sebuah gedung. Seseorang dengan tampang menakutkan masuk ke dalam lift mereka. Jung In menelepon Tae Yeon memberitahukan pelaku pembunuhan, dan mengirimnya foto seorang pria... yang sekarang sedang berada di belakang mereka.




Ia segera menyuruh Hae Ri keluar, dan bertarung dengan pria sangar itu di dalam lift. Kemudian dilanjut di luar saat mereka sampai di lantai lainnya. Pria sangar itu cuku kuat, membuat Tae yeon cukup kewalahan menghadapi. Walau pada akhirnya pria sangar itu berhasil dilumpuhkan. Hae Ri menghampirinya dan memberikan scarfnya untuk telapak Tae Yeon yang terluka.



Tae Yeon membawa Hae Ri menghadap ke Bos Jo, yang bertanya apa Hae Ri tahu orang-orang berpengaruh yang terlibat di dalamnya. Sial, aku mengira nih orang udah jahat, tapi ternyata sangat jahat.



Tae yeon berkata ia akan menghargai semua keputusan yang diambil Hae Ri. Preskonnya dimulai, Hae Ri ragu mengutarakan keputusannya. Tim jaksa bertanya-tanya apa yang terjadi, kemudian Tae yeon mengambil alih dan menjawab seputar pertanyaan terbunuhnya Joo Hee.




Hae Ri melihatnya, dan sadar akan pengorbanan Tae Yeon untuknya, "aku sudah memutuskan." Ia mengambil alih mikrofon dan bercerita semuanya.




Case closed. Tae Yeon menikmati me time di rumahnya, meminum segelas darah. Ia merasakan sesuatu. Ada seseorang di belakangnya.

Ia memutar badannya namun kurang cepat. Si Mata Merah menusuk perutnya. Tae yeon tersungkur kesakitan. Si Mata Merah memperingatkan Tae Yeon untuk tak terlibat, "Kau harus tahu, bukankah wajar seorang vampir meminum darah manusia?"



Tae Yeon, "Kau pembunuh." Si Mata Merah, "Orang-orang harus mati agar aku bisa hidup.Jika aku ingin tetap hidup, aku harus membunuh. Begitu juga kau."

Tae Yeon tak gentar, ia bersumah akan mengejarnya. Si Mata Merah tertawa, bukan hanya dirinya yang perlu dikhawatirkan, tapi juga orang-orang disekelilingnya. Wajah Tae Yeon untuk pertama kali menunjukkan ketakutan.



Si Mata Merah memegang pipi Tae Yeon. Baiklah kalau begitu, kita lihat siapa yang akan terluka.

Tae Yeon bertanya siapa yang di maksud Si Mata Merah waktu itu—vampir yang bukan jaksa sepertinya— Si Mata Merah tak menjawab hanya menjilati darah Tae Yeon di tangannya sebelum ia pergi.

Tae Yeon kesakitan menarik pisau dari perutnya.


Vampire Prosecutor 2 Episode 7 END

2 comments:

  1. Waaaaa....akhirnya nemu jg blog yg ngrecap vp 2...dtunggu ya ep2 selanjtnya..faighting!!

    ReplyDelete
  2. waduh mana lanjutanx? Lanjut d0nk, berbulan2 kucari sin0psis neh, ntar q bs mati penasaran T_T

    ReplyDelete

Apa pendapatmu tentang post ini?